Getar Nyai Roro Kidul di Pantai Selatan


Pernahkah kau mengalami, segala hal yang kau usahakan, kau kerjakan, semuanya tak berarti? Seberhasil apapun akhirnya? 

Pernahkah, kau mengalami situasi, di mana, kesunyian bahkan kematian lebih penting dari dunia ini? Atau pernahkah kau mengalami hal, yang kau ingin cukup menyimpannya dalam hati, dan enggan mendengarnya lewat telinga lahirmu?

Tiba-tiba, aku tak sanggup melupakan suatu nama, dan tak ingin nama itu terdengar, dicatut, dan disebut-sebut. Cukup tersimpan saja rapi dalam hati yang lebih rapat. Juga, suatu tempat di mana sebuah pertemuan bertemu, dan tidak dipertemukan.
 

”Itu pula yang kualami anak muda! Di mana, aku hanya ingin sendiri dan menyendiri bersama sunyi.” Sebuah suara terdengar, sesosok orang bertubuh gempal, tegap, dan dengan kepala bermahkota. Tiba-tiba saja, dia sudah berdiri bak tembok di sebelah. Angin dingin berdesir di sepanjang pantai ini.
”Itu pula yang kualami anak muda!
Di mana, aku hanya ingin sendiri dan menyendiri bersama sunyi".
Ah, Sultan Agung saja berkata begitu padaku. Merinding mendengarnya.

”Ya, demi sebuah nama yang melekat, melekat dalam jiwa. Ingin melupakan dunia ini, dan segala isinya. Kalau saja bisa!!”
”Hei, hei, siapa kau?!”
”Hehehe. Inilah dia diriku, Sultan Agung Mataram..”

Ah, yang bener?! Wew, nenek moyang paling agung dari abad-abad berlampau itu? Amboi. 


”Apa yang kau rasakan, juga pernah kualami, anak muda!” tuturnya dengan suara pelan tapi kuat bak gemuruh samudra. Dia berkata tanpa memalingkan muka. Lihat gayanya berdiri, bak rajawali menelan ombak. ”Baiklah, aku akan curhat tentangku padamu, ok?!”

Hehehe. Sangat menarik. Seorang diraja tiba-tiba pengen curhat padaku. Manusia bodoh ini. Akan kudengarkan, akan kusimak sebaik mungkin! Lihatlah, beliau kini mengajakku duduk lesehan di pantai ini. Pantai Facebook. Pernah dengar pantai satu ini? Aku yakin, kau memaklumi tentang tanah tak terjamah ini. Di mana, hanya dunia pikiran sajalah yang bisa menjejakkan kakinya di pantai itu.

“Tak ada yang tahu..” lanjut Sultan setelah selesai membenahi posisi duduk lebih rata dengan pasir yang penuh undukan. Kurasa, beliau pasti akan curhat hal-hal menarik tentang dirinya, padaku. Hanya padaku saja, kekeke. Dan lihatlah, kepala beliau mulai tengadah ke atas, di mana pucuk-pucuk bintang malam bermain kerikil di langit. Nah, kini dia menurunkan pandangan di arus ombak. Ombaknya meliuk, berkas-berkasnya berwarna keperakan membias di kegelapan. Indah banget. Romantis sekali kalau ada bidadari di sini, mengganti nenek moyang di sampingku ini.
 

”Betapa pantai selatan ini begitu berarti bagiku.” jelas sultan kemudian, ”Di sinilah, pertemuan tentangku dan tentangnya beradu. Tentang seseorang yang hilang, dan membuatku ingin menyunyi. Dan kalau bisa ditelan saja dari kehidupan ini. Dialah, yang membuatku punya cita-cita menjadi raja diraja Jawa ini. Kehadiran itu, membuatku punya cita-cita besar.Ehem! Bahkan mungkin terlalu besar!”

“Apa kau tahu, kenapa aku menyebutnya Putri Kidul? Itu karena aku tak ingin lagi mendengar namanya terpanggil. Biarlah, semuanya menjadi milik hatiku. Milik hatiku saja. Dan hanya hatiku saja yang tahu. Banyak orang tidak tahu, betapa tempat ini sangat berharga. Lebih dari apapun! Karena itu, bertahun-tahun lamanya, aku bertapa disini, bersedekap dengan alam sunyi. Kala itu, rasanya alam `dalam` lebih baik dari alam `luar`. Hampir saja urusan kerajaan terlalaikan. Pikirku, betapa, cita-cita adalah pembunuh paling kejam di dunia ini, huhuhu, ” Sultan tiba-tiba sesunggukan.  Aku hampir tak percaya. Beliau bisa menangis juga? Masak sih??


“Ketika dirinya tak ada, anak muda. Maka semuanya seperti padam tak berguna. Aku menjadi menyesal, pernah punya cita-cita! Huhuhu..”
“Tunggu sebentar pak raja!” potongku cepat.
”Hei, aku lagi menangis! Berikan kesempatan aku menangis sebentar napa?!! Huhuhu..”
Hah, payah. Raja pun menangis sesunggukan begitu? Sulit dipercaya!

”Aku sudah selesai menangis. Tanyakan, apayang ingin kau tanyakan..”
Hehehe. Makin menarik saja.

”Kurasa sejarah ini tidak terdokumentasikan. Sejarah mengatakan, Andalah raja paling jaya Mataram bukan??” Sultan Agung tertawa terbahak. Aneh, padahal barusan menangis sesunggukan.
”Itu karena berkat bentakan seseorang!”
”Bentakan seseorang?? Siapa pak..” Pak Raja mengangguk.

”Yap. Seseorang yang kini adalah permaisuriku. Karena bentakannya itu, aku terbangun! Dia datang dan dengan lancangnya berkata; bahwa apa yang aku lakukan adalah salah. Hilang satu, tumbuhlah seribu. Begitu dia berkata. Aku malu, padahal aku sudah kadung dikenal sebagai lelaning jagad yang sejati. Masak malah jatuh gara-gara patah hati? "

Aku kaget. Sultan ini kok jadi lebih optimis sekarang. “Dia lalu bilang, agar aku kembali ke dunia `luar. Dan tidak melulu tenggelam di dunia `dalam`. Malu sekali aku dengan pemilik bentakan itu.
Ya, aku telah bertindak bodoh. Sangat bodoh. Dengan menyepi di sini. Meninggalkan rakyatku..

Sekilas kuamati, roman wajahnya mulai berubah. Lebih optimis. Gila, secepat itu dia lebih berbahagia dari barusan. “Dua perempuan, paling membanggakan dalam hidupku. Dan memberikan arti penuh, dari separuh hidupku yang pernah terhapus. Rasanya, seperti dihidupkan kembali!”

Aku terdiam mendengarnya. Hebat. Hebat. Ternyata, memang ada `kehadiran` setelah `kehilangan`. Ada `kemudahan`, di balik `kesulitan`. Sultan saja mengalaminya. ”Ngomong-ngomong ya pak raja. Kira-kira, boleh tahu ndak, siapa sih nama aslinya Putri Roro Kidul itu? Dan ada apa kemudian dengannya?? Kenapa Anda bisa berpisah???”


Tiba-tiba mata Sultan Agung melotot. Rasanya, seluruh tubuh jadi dingin.
”Kau mau kubunuh?!!” sentaknya keras. Aduh, keras juga ni orang. Matilah aku!

”Aku curhat begini, karena aku merasa kita senasib. Seperasaan. Di mana, kita sama-sama tidak sanggup melupakan suatu tempat, dan nama yang tidak ingin lagi kita dengar di telinga. Dan tidak ingin, siapapun tahu, selain hati kita sendiri?”


Oouw. Ternyata begitu. Raja juga manusia ya? Pernah jatuh cinta, juga pernah patah hati? Lalu, mengenai dirimu, maukah kau kupanggil; Putri Roro Kulon??.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar